![]() |
| Gambar: pixabay.com |
Bisa dipastikan bahwa setiap orang pasti suka sama yang namanya bercermin (ngaca). Tapi mungkin kadar keseringan tiap orang beda-beda. Ada yang ngaca tiap abis mandi aja, ada yang ngaca kalo mau pergi aja, ada juga yang sering banget ngaca bahkan sampe kemana-mana bawa kaca (cermin).
Sebetulnya gak ada yang salah dengan bercermin, hanya saja gak boleh keseringan. Seperti pepatah lama mengatakan bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik. Nah begitu juga dengan bercermin, gak boleh berlebihan.
Emang kenapa sih sul, kok gak boleh ngaca berlebihan? Jangan-jangan berhubungan sama mistis ya kayak kepercayaan orang-orang dulu?
Jawabannya no. Ini bukan tentang mitos yang katanya kalo kelamaan bercermin bakalan ada bisikan setan 😂
Tapi ini diliat dari sisi psikologisnya.
Dari beberapa sumber yang aku baca, para ahli mengungkapkan bahwa bercermin dalam waktu yang terlalu lama ternyata bisa berpengaruh pada psikologis seseorang loh. Diantaranya yaitu:
1. Peningkatan resiko terkena Body Dysmorphic Disorder (BDD).
Orang yang kena BDD sering melakukan hal-hal yang berlebihan demi menutupi kekurangan fisiknya. Contohnya banyak banget orang yang rela operasi plastik sampe berkali-kali karena ngerasa kalo fisiknya gak sesempurna yang diinginkan.
2. Hanya fokus pada kekurangan fisik yang dimiliki. Lambat laun hal ini dapat mengakibatkan stres karena hanya memikirkan tentang kekurangan tanpa memikirkan kelebihan yang dimiliki. Padahal setiap orang pasti memiliki kelebihan. Jika terlalu fokus dengan kekurangan yang dimiliki, bisa-bisa nantinya akan timbul rasa benci ke diri sendiri karena merasa tertekan dan tidak puas dengan fisik yang dimiliki.
3. Iri dan cemburu pada orang lain karena selalu membandingkan fisik diri sendiri dengan orang lain. Hal ini bisa terjadi gara-gara suka keseringan bercermin loh. Karena makin lama ngaca, makin keliatan kekurangan fisik kita. Terus nanti ujung-ujungnya dibanding-bandingin sama orang lain yang fisiknya dirasa lebih sempurna dan akhirnya bisa timbul rasa iri ke orang-orang yang lebih "sempurna" tersebut.
4. Sombong dengan kelebihan fisik diri sendiri. Nah kalo yang ini justru sebaliknya dari poin no 3. Ada juga yang memang dianugerahi fisik yang bisa dikatakan "sempurna" atau lebih baik dari orang lain kebanyakan. Nah biasanya dengan kelamaan bercermin makin ngerasa kalo "tubuhku sempurna banget ya, gak kayak si A yang blablabla", misalnya. Ujung-ujungnya dibanding-bandingin sama orang lain yang fisiknya dirasa kurang "sempurna" dari dia. Dan akhirnya bisa berakibat pada munculnya rasa sombong.

0 Comments